Jakarta — Perekonomian Indonesia memasuki awal 2026 dengan kondisi yang relatif stabil di tengah ketidakpastian global. Pemerintah dan otoritas moneter menegaskan komitmen untuk menjaga stabilitas makroekonomi sembari mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan melalui penguatan sektor domestik.
Stabilitas ekonomi nasional tidak lepas dari peran Bank Indonesia dalam menjaga inflasi dan nilai tukar rupiah. Kebijakan moneter yang hati-hati diterapkan untuk menyeimbangkan pengendalian inflasi dengan kebutuhan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Di sisi fiskal, pemerintah melalui Kementerian Keuangan mengarahkan belanja negara secara terukur dan produktif. Fokus utama diarahkan pada pembangunan infrastruktur, penguatan sumber daya manusia, serta perlindungan sosial guna menjaga daya beli masyarakat.
Sektor konsumsi domestik tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Aktivitas UMKM menunjukkan tren positif, didukung oleh digitalisasi dan akses pembiayaan yang semakin luas. Pemerintah menilai penguatan UMKM menjadi kunci penting dalam menciptakan lapangan kerja dan mendorong pemerataan ekonomi.
Selain itu, strategi hilirisasi industri dan pengembangan ekonomi hijau terus diperkuat. Investasi di sektor manufaktur, energi terbarukan, serta ekonomi digital dipandang mampu meningkatkan nilai tambah dan daya saing nasional dalam jangka panjang.
Dengan fondasi ekonomi yang relatif solid dan kebijakan yang adaptif, Indonesia diharapkan mampu menjaga stabilitas sekaligus mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam menghadapi tantangan ekonomi global sepanjang 2026.










